This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 25 Januari 2013

SAYA TERANCAM

Kediamanku (Rudiyanto Zainudin) saat SD

Saya tak mengerti mengapa ada yang berani melepas rem belakang motor milikku, saya tak mengerti apa tujuannya melepas rem tersebut, apakah dia ingin saya meninggal?, saya tak mengerti mengapa ada memusuhiku, kenapa harus menyerang saya dari belakang, kalau memang saya salah mengapa tak berhadapan langsung dengan saya, kenapa harus jadi pengecut?,,kenapa???
Pertanyaan yang musul ketika saya hampir menabrak mobil Avanza yang terparir tepat di depan parkiran motor saya, yah malam ini Allah masi menyangi saya sehingga saya masi di lindungi oleh Nya. Pukul 21.32 Wita saya hendak memindahkan motor yang telah lama saya parkir didepan Hotel Matahari Labuan Bajo sejak jam pulang sekolah Pukul 13.00 Wita, namun na’as menimpa saya malam ini pada pukul tersebut (21.32 Wita Tanggal 17/01/13) ketika hendak ingin memindahkan motor di belakang rumah, rem belakang saya terlepas, untung saja saya tak menaring kuat gas motor sehingga kecelakan jauh dari diri saya, namun jika tidak saya mungkin akan menabrak mobil Avanza yang terpakir tepat di depan motor.
Piiran saya makin kacau, ada apa lagi ini, apakah ada yang mau membunuh saya?, saya berfikir tentang musuh-musuh saya, setahu saya saya tak punya musuh. Hanya saja saya pernah berselisih paham dengan seseorang, yah seorang anak sekolah namun semua telah mencair dan kejadiannya juga sudah seminggu yang lalu, tapi tidak mungkin sang bocah itu senekat itu ingin membunuh saya, terus kalaupun ini ulah siswa saya juga sama sekali tak mungkin, selama saya mengajar semua siswa saya memang hampir nakal namun semuanya sanagt dekat dengan saya sehingga tak mungkin mereka berencana membunuh saya. Lalu ketika saya beritahu keluarga saya, adik saya berkomentar “mungkin pekerja jalan yang berada di toko baru itu (roxy mart)”, tapi itu juga tidak mungkin, sebab para pekerja itu tipa kali saya pulang kerja sering saya tegur dan sebaliknya, kami saling melempar senyum.
Duh, saya makin bingung malam ini, atau mungkin anak-anak komleks rumah saya yah, tapi saya ta yakin merak pula sebab, jika saya hendak kerja atau hendak mengendarai motor, mereka sering menegur saya bahkan memuji saja. Ya Allah, senekad itukah seseorang meleps rem belakang motor saya. Minggu ini saya tak pernah berselisih paham sama siapa pun. Atau mungkin orang-orang yang saya tolk untuk bergabung di sekolah yang saya pimpin?, duh kayaknya tidak juga. Kalau masalah disekolah, berselisih paham dengan seorang guru mungkin iya, namun saya berusaha mencairkan suasana sehingga tak perlu ada dendam diantara kami.
Tapi mungkinkah senekad itu seseorang melepas rem motor saya. Senekad itu dia ingin membunuh saya. Ya ALLAH hamba tahu hamba lalai melaksanakan perintahmu namun ya ALLAH hamba tak pernah menginginkan musuh di dunia ini.
Saya berharap jika memang ada yang membenci saya, silakan langsug berhadapan dengan saya, tak perlu menusuk saya dari belakang. Namun hati orang saya tak pernah tahu, semoga saja ini peljaran buat saya bahwa orang yang membenci saya masih  sangat suka memeperhatikan saya.

Labuan Bajo, 17/01/13 Pukul 22.07 WITA

Kamis, 24 Januari 2013

SISWA 2 (Kedisiplinan)


Tiga Orang Siswa Yang Saya Didik
Fajar telah menampakkan sinarnya hari ini dengan begit indah, langkah kaki untuk kembali mendidik generasi bangsa kembali direncanakan. Hari ini (Kamis 17/01/13) saya menuju sekolah pagi-pagi sekali dengan harapan saya bisa menjadi Pemimpin yang tepat waktu dan menemukan sebuah perubahan baru disekolah. Keinginan memang tidak selaras dengan apa yang terjadi, dan begitulah pagi ini. Pagi yang cerah malah bergulir dengan mendungnnya perasaan jiwa saya kala hendak sampai di sekolah saya malah menemukan sesuatu aktifitas yang kurang bagus.
Masih ada siswa saya yang mandi pada pukul 07.15 Wita, yah kebetulan di sekolah terdapat asrama putra sehingga ada beberapa siswa yang tinggal disana dan ada guru yang menjadi pembinanya, namun mungkin urang terkoordinir sehingga terjadilah sebuah keterlambatan mandi.
Yah, kembali saya elus-elus dada saya agar tak menambah beban perasaan. Pada saat itu juga guru yang baru saya angkat datang, sehingga saya pun mengutarakan apa yang terjadi di sekolah agar dia paham betul apa yang akan dia lakukan sebagai pendidik.
Kejadian pagi ini menambah sederetan PR yang harus saya kerjakan sebagai pemimpin dam sebagai guru. Menjalani sebuah tugas yang luar biasa menguras pikiran sehingga butuh strategi yang bagus agar tercipta sebuah keteraturan pekerjaan yang rapi.
Dua anak yang mandi tadi, aktifitasnya telah terhenti karena mandinya telah selesai. Waktu juga sudah menunjukan pukul 07.28 Wita dan jam sekolah masuk telah terlewatkan. Di kelas 11 jam pertama diisi oleh guru baru tersebut yaitu Pak Dus, karena di sekolah saya belum memilii bel maka anak-anak hanya dipanggil saja. Sedangkan di kelas 10 jam pertama yaitu mata pelajaran Kimia yang di bimbing oleh  Pak Maryono tapi karena pak Yono masih sakit, saya pun mengggantikan beliau kebetulan tahun lalu saya mengajar Kimia, dan sekarang karena saya telah men jadi Kepala Sekolah maka jam ngajar saya dikurangi. Namun, perasaan saya yang memang masi mendung dengan aktifitas mandi di jam sekolah mala bertambah kala anak-anak masi nonggrong di parkiran motor padahal teman-temannya telah memanggil.
Ini luar biasa, emosi saya terhempas keluar, sepatu saya pun melayanng mengarah kepada siswa saya, yah saya tahu ini bukan cara mendidik yang bagus karena tak selayaknya saya keras terhadap siswa-siswa saya. Namun perwujudan perasaan yang ditahan mendung yang menghantui perasaan saya kni telah terguyur hujan karena luapan emosi yang luar biasa menyankitakan untuk saya.
Sekuat tenaga saya usahakan agar hujan di perasaan saya berhenti agar taka ada yang disakiti lagi, agar tak ada eerasana lagi, agara saya mamapu mendidik siswa saya tanpa kekerasan fisik. Sehingga nada suara saya yang meninggi saya turunkan dengan rendah, saya pun tahu ini berat dalam sebuah keterpaksaan. “saya lagi mencari listrik untuk menyalakan lampu disekolah ini, jadi saya berharap kalian membantu saya untuk menemukan listrik tersebut” ungkap saya pada pagi itu. Saya memeberikan arahan pada mereke sehingga saya berharap mereka lah yang menemukan listrik dan mereka lah yang menyalakan lampu tersebut.
Sampai detik ini saya hanya menginginkan siswa-siswa yang saya didik menjadi generasi yang baik, jujur dan bertanggung jawab. Tak banyak yang didinginkan seorang guru hanya ingin melihat siswanya mampu mencapai cita-citanya.
Hari ini sepertinya hari yang luar biasa kepada saya, siswa sudah mandi di jam sekolah, siswa tak masuk kelas padahal telah waktunya masuk, dan terakhir guru pembina asrama mereka malah mencontohkan yang kurang enak dimata, dia mengenakan baju kaos oblong dan selana pndek dengan handuk membaluti lehernya, ternyata dia hendak ingin mandi. Sebuah ketidak wajaran, entahlah apakah beliau menegrti betul dengan profesinya atau hanya sekedar nama yang melekat, sebagai pemimpin hendak ingin menegurnya namun sepertinya ada sesuatu terjadi pada saya sehingga hanya mampu melihat dan membiarkannya.
Ya Allah, Tuhan yang menguasai segalanya, berikana saya kekuatan agar saya mampu melewati keadaan ini dengan kemampuan yang saya miliki.
Saya seorang Kepala Sekolah, saya seorang guru, dan saya hanya berharap pendidian di daerah saya maju, khususnya sekolah saya, sehingga siswa-siswa saya menjadi penerus yang berkualitas.

Labuan Bajo, 17 Januari 2013 Pukul 17.57 Wita.

SISWA 1 (“JUJUR DAN BERTANGGUNG JAWABLAH”)


Rabu pukul 23.19 WITA, saya di hubungi oleh seorang siswa yang pernah mengeritik saya ketika saya mengenakan sandal ke sekolah, saya biasanya memanggil dia Andy dua. Dia berujar “pak saya punya masalah”, saya pun bertanya balik “masalah apa lagi”, sebab tiap kali dia memiliki masalah dia pasti menghubungi saya. “pak, saya dan ven (teman sekolahnya) menabrak pegawai bendara dan kami lari pak” ungkapnya, serentak saya kaget luar biasa “kenapa lari, bukanah kamu harus tanggung jawab dek” tanya saya kepadanya. “kami panik pak, lagi pula di halang kami punya jalan, tapi dia tidak terlalu parah pak” ujarnya.
Saya sontak tak bernafas bahkan sepertinya bumi berhenti berputar, entah harus aku mengeluh pada siapa, anak murid saya kembali membuat masalah dan dia laridari tanguung jawabnya. Naluri batin saya seorang guru sontak gemetar “apakah saya gagal mendidik mereka?”, pertubrukan piiran saya makin gila kala siswa saya berujar kembali “pak kami takut permalukan sekolah, kami tak mau pak malu gara-gara-gara kami” ucapnya, sayapun menjawabnya “saya lebih malu lagi ketika murit saya tak jujur dan lari dari tanggung jawab”.
Tuhan, ini luar dari biasa, ini diluar kemampuan saya sebagai sosok pemimpin muda di daerah ini, sosok guru yang membangun sebuah peradaban pendidikan yang berat di daerah ini. Tapi saya bisa tersenyum walau sediit kala siswa saya berlasan takut mempermalukan sekolah, tapi setidaknya siswa saya masih punya niat untuk tanggung jawab.
“kami akan tanggung jawab pak, saya mau bicara dengan saya punya orang tua dulu, tapi pak jangan marah” ungkapnya pada saya, “saya tak marah saya hanya ingin siswa saya jujur dan bertanggung jawab, itu saja” tegasku. Bagaimana pun nakalnya mereka tetap siswa kebanggaan saya, tanggung jawab moril saya sebagai guru untuk mendidik mereka agar lebih baik.
Seorang guru hanya memilki tujuan mendasar yaitu mendidik siswanya dengan sebaik mungkin, bukan hanya mengerti dalam pelajaran tapi mereka mengerti dengan ajaran-ajaran agama sehingga bukan hanya teori namun terjewantahkan didalam praktek.
Saya pun sebagi Pemimpin di Sekolah yang masi merangkak untuk berdiri, menginginkan perubahan yang baik ketika sekolah yang saya pimpin hadiri di tengah-tengah daerah Manggarai Barat ini, mencetak siswa yang berualitas, jujur dan bertanggung jawab.
“maaf kan kami pak” lanjut siswa saya bernama andy dua, “sebelum kamu meminta maaf saya telah memaafkanmu”ujarku, “terimakasih pak” ungkapnya. Seomoga saja keterbukaan murid saya adalah langkah yang bgus untuk sebuah Peradaban.

Kelak kalau kalian (siswa-siswaku) membaca tulisan ku ini, saya hanya ingin berkata:” saya mengeluh pada tulisanku, dan saya hanya ingin kalian lebih baik sehingga kalian dapat meraih cita-citamu setinggi mungkin’”
Labuan bajo, 17 Januari 2012 Pukul 00.23 WITA

Senin, 05 November 2012

PADA SIAPA KU BERTANYA AYAH..??


Bapak Ku (di kuburan Nenek Tercinta)
Saya tak pernah berfikir tetang kontranya jabatan yang saya emban. Tentu sebagai pemimpin yang muda dan masi berbau kencur, sangat banyak yang meremehkan kemampuanku. Tapi jujur ayah, tak sedikit saya gila dan berambisius mereggut jabatan itu, bahkan sebelum saya menerima jabatan menjadi kepala sekolah, ayah mengijinkan dan merestui.
Ayah, kubutuh dekapan dan nasehatmu tapi apakah mungkin saya terlalu egois menghadapi ayah dan masi menutup di paada ayah kandungku sendiri. Hari raya idul adha kemarin (26/10/12) saya kembali meminta maaf pada mu sebab 2 minggu lamanya kita tak menyapa. Ingin rasanya ku ungkapkan bahwa sungguh berat saya harus menghadapi transisi kehidupanku ini.
Kumohon ayah mengerti, dan ayah bisa epat menegerti. Jika kelak ada yang membaca tulisan ku ini, entah anda harus mengatakan aku cengeng atau apalah itu, tapi inilah pelampiasan kejenuhanku pada kehidupan pun saya berkeyakinan dengan menulis saya mampu menghindari pelampiasan yang salah.
Saya ingin berkeluh kesah pada tuisan, sebab banyak hal yang tak bisa saya ungkapankan pada ayah. Tentu tiap hari saya berharap ayah akan menjadi pimpinan yang baik di gubuk sederhanaku bersama ibu keduaku walau tanpa ibu kandungku, kelengapan keluarga belum pernah saya rasakan seutuhnya. Kadang gejolak jiwa memanas namun harus saya akui saya telah beranjak dewasa dan harus menjadi panutan adik-adik ku dan siswa-siswaku.
Sekarang ayah jrang meneggur, kala saya meninggalkan rumah terlalu malam, atau ayah megerti keadaanku atau malah ayah bosan menegurku kembali. Pun ayah, dan ayah perlu tahu, ku tinggalkan malam pada waktu orang-orang terlelap tak ada niat saya membuang waktu untuk berhura-hura mealinkan membuang penak, dan mengubur segala problema yang tak berguna.
Ayah, saya selalu ditanamkan untuk selalu jujur, ayahpun selalu menasehatiku untuk hidup sederhana, tak sombong bahkan selalu menghargai orang lain. Itu dilihat kala ayah bekerja sebelum mtahari terbit dan pulang saat mataahari akan terbenang. Ayah bekerja banting tulang, ayah bekerja tak mengenal waktu, bahkan banyak oarng mengatakan ayah sangat gesit bekerja. Yah, saya bisa melihat dari kulit ayah yang makin hari makin keriput, rambut yang makin hari makin memutih. Tapi semangat ayah bekerja pun ada oarang yang iri dan dengki pada aayah, pun ayah tak menaruh dendam apaada orang tersebut malah ayah yang menegurnya walaupun orang tersebut tak merespon teguran ayah.
Pun saya seperti ayah, bekerja untuk pendidikan kota kelahiranku ini, bekerja untuk kemajuan pendidikan kota ini, walaupun banyak manusia yang tak merespon dengan apa yang saya lakukan bersama rekan guru yang lain.
Ayah, kala aayah menanyakan gaji ku sebagai guru. Ayah harus tau gajiku tak seberapa karena sungguh aku iklas mendidik, sayaa iklas bekerja untuk kemajuan pendidikan di Kab. Manggarai Barat ini.
Tak perduli harus saya korbankan masa mudaku yang bercengkrama dengan ngopi bareng teman-teman di kaffe. Menjadi kepala sekolah di dua sekolah yaang hendak di bangun adalah sebuah pekerjaan yang sangat sulit di usiaku yang beranjak 23 tahun.
Ayah, saya contohi semangatmu, bekerja dan bekerja, ayah melayani para kapten agar terpenuhi bahan bakar kapalnya, maka saya melayani masayarakt yang ingin belajar menjadi cerdas, menjadi pemimpin di kota dunia ini agar tak selalu di bodohi oleh oarang luar.
Ayah, saya pun seperti mu, berusaha selalu jujur, selalu profesional terhadap pekerjaan, selalu melayani penuh tanggng jawab, tapi ayah pun sepertimu ada saja orang yang tak senang dengan apa yang saya lakukan. Padahal sekolah yang saya pimpin tergolong sekolah yang baru lahir dari bumi ini, masi mencari identisas. Perlu di latih, perlu di bina namun kesenjangan mulai terjadi antara saya dan seorang teman. Yah, mungkin saja dia tak bisa menerima kala dia di pimpin oleh anak kecil sekecil saya. Tapi ayah saya sudah bertekat kecerdasan yang Tuhan berikan tak akaan membuatku goyah dalam bertindak selam itu benar, selama itu tak merusaak sekeliling aakaan sayaa jaalaani lewat tuntunan Tuhan.
Ayah, kelak esok ayah akan menegerti bahwa saya selalu mengidolakanmu, selalu menyangimu, kelak esok engkau akan menegerti bahwa anakkmu ini akan membangakan dirimu, dunia dan akhirat.

Labuan bajo, 31 Oktober 2012 Jam 00.52 WITA